------------------------ Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah 2 ~ Sakura Padang Pasir

Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah 2

Tafsir Mimpi  Menurut Al-Qur`an  dan As-Sunnah


~ hukum~.  

 Demikian pula halnya dengan mimpi yang dialami Yusuf a.s., yang dikisahkan Allah dalam 
Al-Qur`an sebagai kisah yang populer dan terkenal.  Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami dari Ali bin  Muhammad al-Waraq, 
dari Ahmad bin Muhammad bin Nashr, dari Yusuf bin Bilal, dari Muhammad 
bin Marwan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah terkena 
sihir. Maka, beliau jatuh sakit, sehingga kami mengkhawatirkannya. Ketika beliau berada antara tidur 
dan terjaga, tiba-tiba turun dua malaikat: yang satu berada di dekat kepala Rasulullah dan yang lain 
berada di dekat kaki beliau.
 Malaikat yang berada dekat kepala berkata kepada malaikat yang berada 
dekat kaki, ‘Mengapa dia sakit?’  Malaikat bertanya demikian supaya Nabi saw. memahami 
persoalannya.   Temannya menjawab, ‘Terkena sihir.’    
‘Siapa yang melakukannya?’ 
‘Lubaid bin A’sham, orang Yahudi.’ 
‘Di mana dia melakukannya?’ 
‘Di sumur Dzarwan.’ 
‘Bagaimana mengobatinya?’ 
‘Kirimlah orang ke sumur itu dan keringkan airnya. Jika tampak sebuah batu besar, 
 singkirkanlah karena di bawahnya terdapat tali busur yang berpintal sebelas dan diletakkan di dalam 
kantong. Setelah itu bakarlah ia. Insya Allah dia sembuh. Jika dia menyuruh orang, hendaknya dia 
mengeluarkan kantong itu.’”  Ibnu Abbas melanjutkan, “Nabi pun bangun dan beliau telah memahami apa yang dikatakan  kepadanya oleh malaikat. 
Beliau menyuruh ‘Ammar bin Yasir dan sekelompok sahabatnya ke sumur 
tersebut yang airnya telah berubah seperti inai. Kemudian sumur itu dikeringkan. Setelah tampak batu 
besar, ia pun digulingkan, dan tampaklah di bawahnya kantong yang berisikan tali busur bersimpul 
sebelas. 
  Kemudian mereka membawanya kepada Rasulullah. Maka, turunlah surah al-Falaq dan surah 
an-Naas. Kedua surah ini berjumlah 11 ayat dan sama dengan banyaknya buhul yang berjumlah 11 
pula. Setiap kali beliau membaca satu ayat, lepaslah satu buhul. Setelah seluruh buhulnya terbuka, 
Rasulullah dapat bangkit dan seolah-olah terlepas dari ikatan. Buhul itu pun dibakar. Nabi menyuruh 
kita berlindung kepada Allah melalui kedua surah tersebut. Lubaid mengunjungi Rasulullah. 
Meskipun beliau menceritakan kejadian di atas, pada wajah Lubaid tidak tampak perubahan apa pun.” 

 Hadits di atas menunjukkan kebenaran masalah mimpi dan keberadaannya di dalam banyak  hadits, 
sehingga terlampau panjang untuk menceritakannya.  Ustadz Abu Sa’ad berkata, “Aku melihat bahwa ilmu itu terdiri atas beberapa jenis, 
di  antaranya ada yang bermanfaat bagi dunia, tetapi tidak bermanfaat bagi agama; ada yang bermanfaat 
bagi dunia dan agama. Ilmu tentang mimpi termasuk ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan agama. 
Kemudian aku shalat istikharah sebelum mengumpulkan apa yang berasal dari Allah dan menempuh 
metode peringkasan seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menyempurnakan apa yang 
diridhai dan dicintai-Nya. Juga berlindung kepada-Nya dari ujian dan fitnah-Nya. Allahlah Pemilik 
taufik. Cukuplah Dia bagi kami. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”  Ustadz Abu Sa’ad berkata,
 “Orang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati  kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur.
 Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.’”  Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu.
Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad  saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa 
tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian 
yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.  Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw.
menyukai  bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya 
meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa,   “Ya Allah,
lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba- Mu.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
Atabah / Tafsir Mimpi / m.s 2 dari108 

      ~Mimpi terbagi dua: mimpi yang benar dan yang batil.~
  Mimpi yang benar ialah yang dialami  manusia tatkala kondisi psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang seperti ditandai oleh 
bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan. Mimpi yang benar tidak didahului dengan 
adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi. 
   Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid.  Adapun mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, 
keinginan, dan hasrat.  Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang 
mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama 
halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari setan. Allah Ta’ala 
berfirman,    “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman  itu berduka cita,
sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, 
kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” 
(al-Mujaadilah: 10)    Jika  seseorang  mengalami  mimpi  yang  tidak  disukai,  disunnahkan  melakukan  lima  perbuatan.
  Yaitu, mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan 
kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya 
kepada siapa pun.  Ustadz  Abu  Sa’ad  berkata, 
“Pelaku  mimpi  hendaknya  memelihara  etika  yang  perlu  dipegang  teguh dan memiliki batasan-batasan yang selayaknya tidak dilampaui. 
Demikian pula halnya dengan pentakwil.”   Etika pelaku mimpi ialah,
  pertama, dia tidak menceritakan mimpinya kepada orang yang hasud  sebagaimana dikatakan Ya’kub kepada Yusuf,  
“Ayahnya  berkata,  ‘Hai  anakku,  janganlah  kamu  ceritakan  mimpimu  itu  kepada  saudara- saudaramu, 
maka mereka akan membuat makar untuk membinasakanmu.’” (Yusuf: 5)
    
  Kedua,  jangan  menceritakan  mimpinya  kepada  orang  yang  bodoh.  
Nabi  saw.bersabda,  “Janganlah  kamu  menceritakan  mimpimu  kecuali  kepada  orang  yang  dicintai  atau  kepada  orang 
yang pandai.”
   
 Ketiga, janganlah menceritakan mimpi kecuali secara rahasia karena dia pun melihatnya  secara rahasia pula. 
Jangan menceritakannya kepada anak-anak dan wanita. Sebaiknya mimpi itu 
diceritakan menjelang awal tahun dan pada pagi hari, bukan sesudah keduanya lewat.  
Adapun etika pentakwil ialah sebagai berikut.    

 Pertama,  jika  saudaranya  menceritakan  mimpi  kepadanya, 
maka  katakanlah,  “Aku  kira  mimpi itu baik.”    

 Kedua, hendaknya  menakwilkan mimpi dengan cara  yang paling baik.
Diriwayatkan bahwa  Nabi  saw.  bersabda,  “Mimpi  akan  terjadi  sebagaimana  ia  ditakwilkan.”  Juga  diriwayatkan  bahwa 
beliau bersabda, “Mimpi itu bagaikan kaki yang menggantung selama belum diungkapkan. Jika telah 
diungkapkan, maka terjadilah.” Demikian yang disebut dalam as-Silsilah ash-Shahihah.   

 Ketiga,  menyimak  mimpi  dengan  baik,  kemudian  menjawab  si  penanya  dengan  jawaban  yang mudah dipahami. 
   
 Keempat, jangan tergesa-gesa menakwilkan mimpi. Lakukanlah dengan hati-hati. 
  
Kelima,  menyembunyikan  mimpi  dan  tidak  menyebarkannya  sebab  ia  merupakan  amanat. 
Jangan menakwilkan mimpi ketika matahari terbit, ketika tergelincir, dan ketika terbenam.    
Keenam, memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda. 
Janganlah menakwilkan mimpi raja  seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya.
   
 Ketujuh,  merenungkan  mimpi  yang  dikemukakan  kepadanya.  Jika  mimpi  itu  baik, 
maka  takwilkanlah  dan  sampaikanlah  kabar  gembira  kepada  pelakunya  sebelum  mimpi  itu  ditakwilkan. 
Jika  mimpi  itu  buruk,  maka  janganlah  menakwillkannya  atau  takwilkanlah  bagian  mimpi  yang 
takwilnya  paling  baik.  Jika  sebagian  mimpi  itu  merupakan  kebaikan  dan  sebagian  lagi  keburukan, 
maka bandingkanlah keduanya, lalu ambillah mimpi yang paling tepat dan paling kuat pokoknya. Jika 
pentakwil mengalami kesulitan, bertanyalah kepada pelaku mimpi ihwal namanya, lalu takwilkannya 
berdasarkan namanya itu.
  Atabah / Tafsir Mimpi / m.s 3 dari108 

 Paparan  singkat  ini  cukup  kaya  bagi  orang  yang  mau  merenungkannya  dan  mencermati  maknanya.
Kalaulah  kami  memaparkannya  secara  panjang  lebar,  niscaya  menimbulkan  kebosanan 
dan kejemuan. Kami berharap kepada Allah Ta’ala kiranya penerangan ini bermanfaat bagi kita dan kiranya 
Dia  melindungi  kita dari  ilmu  yang  tidak  bermanfaat,  perut  yang  tidak  pernah  kenyang,  nafsu  yang 
tidak  mau tunduk, doa yang tidak diterima, tabiat yang menyeret kepada ketamakan, dan ketamakan 
yang  tidak  pernah  berakhir.  Sesungguhnya  Allah  Ta’ala  Mahakuasa  atas  segala  yang  dikehendaki-
Nya,  serta  Maha  melakukan  apa  yang  dituju-Nya.  Cukuplah  bagiku  Allah.  Dialah  sebaik-baik

KLIP SAMBUNGANYA = http://sakurapadangpasir121.blogspot.com/2013/07/tafsir-mimpi-menurut-al-quran-dan-as_6061.html
Pelindung  ~SPP~